Sunat menghibur hati orang yang sakit

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif melalui Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

“Apabila kalian menjenguk orang sakit, hiburlah hatinya tentang ajalnya, karena sesungguhnya hal itu tidak dapat menolak sesuatu pun, tetapi dapat menghibur hatinya.”

Untuk mengungkapkan hal itu cukup dengan mengucapkan seperti apa yang disebutkan di dalam hadis Ibnu Abbas r.a. yaitu:

لاَبَأْسَ طَهُوْرٌاِنْ شَاءَاللّٰهُ

Tidak mengapa, insya Allah, menjadi pencuci (dosa).

Menyanjung kebaikan amal orang yang sakit agar ia mempunyai prasangka yang baik kepada Allah.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a. bahwa ia mengatakan kepada Khalifah Umar ibnul Khatthab r.a. ketika sehabis ditikam, “Wahai Amirul Mu’minin, tiada beban atas hal tersebut, sesungguhnya engkau telah menemani Rasulullah saw, dan ternyata engkau menemaninya dengan baik, kemudian beliau berpisah denganmu dalam keadaan rela kepadamu. Kemudian engkau menemani kaum muslim dan ternyata engkau engkau gauli mereka dengan baik. Jikalau engkau meninggalkan mereka, engkau benar-benar meninggalkan mereka dalam keadaan rela kepadamu,” hingga akhir atsar. Khalifah Umar mengatakan, “Hal tersebut merupakan anugerah dari Allah swt.”

Di dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan melalui Ibnu Syammah yang menceritakan, “Kami datang menghadap kepada Amr ibnul Ash r.a. yang sedang menjelang kematiannya. Ia menangis lama dan memalingkan wajahnya ke arah tembok, lalu anak lelakinya mengatakan, ‘Wahai ayahku, bukankah Rasulullah saw telah memberitahukan kabar gembira anu untukmu?’ Lalu Amr ibnul Ash menghadapkan wajahnya dan menjawab, ‘Sesungguhnya persiapan yang paling utama bagi kami adalah tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’,” kemudian Ibnu Syumasah melanjutkan atsar hingga selesai.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Al Qasim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar r.a. yang menceritakan bahwa Siti Aisyah r.a. sedang mengalami sakit, lalu datanglah Ibnu Abbas r.a. (menjenguknya) dan mengatakan, “Wahai Ummul Mu’minin, engkau adalah orang yang paling dahulu memperoleh kesetiaan yang sangat terhadap Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui riwayat Ibnu Mulaikah yang menceritakan bahwa ibnu Abbas r.a. meminta izin untuk menemui Siti Aisyah r.a. sebelum wafatnya, sedangkan ia dalam keadaan sangat lemah. Lalu Siti Aisyah r.a. berkata, “Aku khawatir bila disanjung.” Lalu dikatakan kepadanya bahwa anak paman Rasulullah saw datang dari arah depan kaum muslim (yang hadir). Lalu Siti Aisyah r.a. berkata, “Izinkanlah dia masuk.” Ibnu Abbas mengatakan, “Bagaimanakah keadaanmu sekarang?” Siti Aisyah r.a. menjawab, “Baik, jika aku bertakwa.” Ibnu Abbas r.a. menjawab, “Engkau pasti dalam keadaan baik, insya Allah, (engkau adalah) istri Rasulullah saw. Beliau tidak pernah menikah dengan perawan kecuali hanya dengan engkau, dan pembelaanmu turun dari langit.

Related posts

Leave a Comment