6 Doa Nabi Musa Yang Ada Di Al Qur’an (Arab, Latin dan Artinya)

Mûsâ ibn ‘Imran yang dikenal sebagai Musa dalam Alkitab Ibrani, dianggap sebagai nabi, utusan, dan pemimpin dalam Islam, adalah individu yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an.  Al-Qur’an menyatakan bahwa Musa diutus oleh Allah kepada Firaun di Mesir dan tempat-tempatnya dan orang Israel untuk bimbingan dan peringatan. Musa disebutkan lebih dalam Al Qur’an daripada individu lain, dan hidupnya diceritakan dan diceritakan lebih daripada nabi lainnya.  Menurut Islam, semua Muslim harus memiliki keyakinan dalam setiap nabi (nabi) dan utusan (rasul) yang mencakup Musa dan saudaranya Harun (Harun). Al Qur’an menyatakan:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan Nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu Dia munajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, Yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang Nabi.”

Musa dianggap sebagai pendahulu kenabian Muhammad. Kisah Musa umumnya dilihat sebagai paralel spiritual dengan kehidupan Muhammad, dan umat Islam mempertimbangkan banyak aspek kehidupan mereka untuk dibagikan. Literatur Islam juga menggambarkan suatu kesejajaran antara orang percaya dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Eksodus orang Israel dari Mesir dianggap mirip dengan (migrasi) dari Mekah yang dibuat oleh para pengikut Muhammad.

Musa juga sangat penting dalam Islam karena telah diberi wahyu dari Taurat, yang dianggap sebagai salah satu kitab suci yang diwahyukan dalam teologi Muslim, dan umat Islam pada umumnya menganggap bahwa sebagian besar Taurat dikukuhkan dan diulang dalam Al-Qur’an.

Selain itu, menurut tradisi Islam, Musa adalah salah satu dari banyak nabi yang ditemui Muhammad dalam peristiwa Mi’raj, ketika ia naik ke tujuh langit. Selama Mi’raj, Musa dikatakan telah mendesak Muhammad untuk meminta kepada Allah untuk mengurangi jumlah doa harian yang dibutuhkan sampai hanya lima sholat wajib yang tersisa. Musa lebih dihormati dalam literatur Islam, yang memperluas insiden-insiden kehidupannya dan mukjizat yang dikaitkan dengannya dalam Alquran dan hadis, seperti percakapan langsungnya dengan Tuhan.

Berdoa

Berikut ini adalah doa-doa dari Nabi Musa, yang layak untuk sering dibaca oleh umat islam

رَبِّ اشْرَحْ لِىْ صَدْرِىْ وَيَسِّرْلِىْ اَمْرِىْ

Rabbis rahlii shadrii wa yassirlii amrii. (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku)

Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Musa  ketika merasa takut menghadapi Fir’aun memohon kepada Allah swt dengan doa ini.

رَبِّ اِنِّىْ ظَلَمْتُ نَفْسِىْ فَاغْفِرْلِىْ

Rabbi innii dhalamtu nafsii faghfirlii. (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. (al Qashas ayat 16)

Menurut keterangan ahli tafsir, doa ini diucapkan Nabi Musa setelah membunuh orang Kubty.

رَبِّ نَجِّنِىْ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

Rabbi najjinii minal qaumidh dhaalimiina. (Wahai Tuhan kami, lepaskanlah aku dari kaum yang zalim.)

Doa inilah yang diucapkan oleh Nabi Musa ketika meninggalkan Mesir menuju Madyan.

رَبِّ اِنِّىْ لِمَااَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍفَقِيْرٌ

Rabbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiirun. (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (al Qashas ayat 24)

Doa inilah yang diucapkan Nabi Musa ketika sampai di Madyan dan menderita kelaparan.

رَبِّ اغْفِرْلِىْ وَلِاَخِىْ وَاَدْخِلْنَافِىْ رَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Rabbigh firlii wa li akhii wa adkhilnaa fii rahmatika yaa arhamar raahimiina. (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang diantara para penyayang. (al A’raaf ayat 151)

وَلِيُّنَافَاغْفِرْلَنَاوَارْحَمْنَاوَاَنْتَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَا. وَاكْتُبْ لَنَافِىْ هٰذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى الْاٰ خِرَةِاِنَّاهُدْنَااِلَيْكَ

Waliyyunaa faghfirlanaa warhamnaa wa anta khairul ghaafiriina, waktub lanaa fii haadzihid dunyaa hasanatan wa fil aakhirati innaa hudnaa ilaika.

Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (al A’raaf ayat 155-156)