Inilah Niat Shalat Qashar Sesuai Sunnah

Inilah Niat Shalat Qashar Sesuai Sunnah

Shalat qashar ialah shalat yang diringkas. Yaitu dari shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Qashar ini diperbolehkan apabila syarat-syarat dan keadaan memungkinkan.

Allah berfirman dalam surat An Nisa ayat 101, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qasharkan shalat. Adapun untuk niat  shalat qashar ialah sebagai berikut:

اُصَلِّ فَرْضَ الظُّهْرِقَصْرًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli fardhad dhuhri qashran lillaahi ta’aalaa.

“Saya berniat shalat fardhu dhuhur qashar karena Allah Ta’aalaa.”

Untuk shalat ashar dan isya, diganti lafadhnya dengan:

فَرْضَ الْعَصْرِ

dan

فَرْضَ الْعِشَاءِ

Apabila dikerjakan dengan berjamaah, hendaklah diberi tambahan “imaaman” atau makmuuman”.

Jika dikerjakan dengan jama’ taqdim dan qashar, maka niatnya ditambah menjadi:

اُصَلِّ فَرْضَ الظُّهْرِرَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًااِلَى الْعَصْرِجَمْعَ تَقْدِيْمٍ قَصْرًااَدَاءًلِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli fardhad dhuhri rak’ataini majmuu’an ilal ‘ashri jam’a taqdiimin qashran adaa-an lillaahi ta’aalaa.

jika ada hujan lebat yang terus menerus, orang diperbolehkan jama’ antara 2 shalat (dhuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya), sekalipun ia tidak dalam bepergian (musafir). Tetapi yang dibolehkan itu hanyalah jama’ taqdim saja. Dan rakaatnya juga harus lengkap 4 rakaat, tidak boleh di qashar. Khusus untuk shalat subuh tetap tidak boleh di jama’ dengan shalat lainnya. Hanya saja hal ini wajib tetap adanya hujan sampai mengerjakan takbiratul ihram di dalam shalat yang kedua. Dan niatnya adalah sebagai berikut:

اُصَلِّ فَرْضَ الظُّهْرِاَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًابِالْعَصْرِجَمْعَ تَقْدِيْمٍ اَدَاءًلِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli fardhad dhuhri arba’a raka’aatin majmuu’an bil ‘ashri jam’a taqdiimin adaa-an lillaahi ta’aala.

“Saya niat shalat fardu dhuhur 4 rakaat di jama’ dengan ashar, yaitu jama’ taqdim, tepat pada waktunya karena Allah Ta’aalaa.”

Setelah itu kemudian shalat ashar, dengan niat sebagai berikut:

اُصَلِّ فَرْضَ الْعَصْرِاَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًااِلَى الظُّهْرِجَمْعَ تَقْدِيْمٍ اَدَاءًلِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin majmuu’an ilad dhuhri jam’a taqdiimin adaa-an lillaahi ta’aalaa.

“Saya niat shalat fardhu ashar 4 rakaat di jama dengan dhuhur, yaitu jama’ taqdim, tepat pada waktunya karena Allah Ta’aalaa.”

Begitu pula untuk shalat maghrib dan isya. Untuk shalat maghrib, niatnya diganti menjadi:

اُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثً رَكَعَاتٍ

Ushalli fardhal maghribi tsalaasan raka’aatin

اُصَلِّ فَرْضَ الْعِشَاءِاَرْبَعَ رَكَعَاتٍ

Ushalli fardhal ‘isyaa-i arba’a raka’aatin.

Shalat dalam kendaraan

Dalam hal ini kita ambil i’tibar dengan hadis Nabi yang artinya sebagai berikut: Dari Amir bin Rabi’ah, katanya saya lihat Rasulullah shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana kendaraan itu.

Jadi bilamana dalam bus, kereta api, kapal, maupun kapal terbang, shalatnya menurut kemampuan, baik cara pelaksanaannya maupun menghadapnya. Menurut Imam Bukhari, bila Nabi hendak shalat fardhu, beliau turun dari kendaraan lalu menghadap kiblat.