Doa Nabi Muhammad saw ketika berbaring di peraduan (tempat tidur)

Doa Nabi Muhammad saw ketika berbaring di peraduan (tempat tidur)

Di dalam kitab Ibnu Sinni diriwayatkan melalui Abdullah ibnu Amr ibnul Ash r.a. dari Rasulullah saw, bahwa beliau apabila telah berbaring di atas peraduannya mengucapkan doa berikut:

اَللّٰهُمَّ بِاسْمِكَ رَبِّى وَضَعْتُ جَنْبِى فَاغْفِرلِى ذَنْبِى

Allaahumma bismika rabbii wa dha’tu janbii faghfirlii dzanbii.

“Ya Allah, dengan menyebut asma-Mu, wahai Rabbku, aku meletakkan lambungku. Ampunilah daku atas dosa-dosaku.”

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Abu Umamah r.a. yang menceritakan: Aku pernah mendengar Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang beristirahat di tempat peraduannya dalam keadaan suci, lalu ia berzikir kepada Allah hingga kantuk melandanya (tertidur), maka tidak sekali-kali ia terbangun di suatu saat di malam hari, lalu ia meminta kepada Allah di saat itu suatu kebaikan dari kebaikan perkara duniawi dan perkara ukhrawi melainkan Allah akan memberikan hal itu kepadanya.”

Diriwayatkan pula di dalamnya sebuah hadis melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw apabila beristirahat di tempat peraduannya mengucapkan doa berikut ini:

اَللّٰهُمَّ اَمْتِعْنِى بِسَمْعِى وَبَصَرِى وَاجْعَلْهُمَاالْوَارِثَ مِنِّى وَانْصُرْنِى عَلٰى عَدُوِّيْ وَاَرِنِى مِنْهُ ثَأْرِيْ اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَمِنَ الْجُوْعِ فَاِنَّهُ بِءْسَ الضَّجِيْعُ

Allaahumma amti’nii bisam’ii wabasharii waj’alhumal waaritsa minnii wanshurnii ‘alaa ‘aduwwii wa arinii minhu tsa’rii Allaahumma innii a’uudzubika min ghalabatid daini waminal juu’i fainnahu bi’sadh dhajii’u.

“Ya Allah, senangkanlah daku dengan pendengaran dan pandanganku, jadikanlah keduanya mewarisi diriku, dan tolonglah daku atas musuhku serta perlihatkanlah kepadaku pembalasanku terhadap musuhku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari utang yang bertumpuk dan dari kelaparan, karena sesungguhnya kelaparan itu merupakan seburuk-buruk teman tidur.”

Para ulama mengatakan bahwa makna “Jadikanlah keduanya yang mewarisi dariku,” ialah tetapkanlah keduanya dalam keadaan sehat dan utuh hingga aku meninggal dunia. Menurut suatu pendapat lain, makna yang dimaksud adalah memohon agar keduanya ditetapkan dalam keadaan kuat di saat usia tua dan melemahnya semua indera, yaitu jadikanlah keduanya mewarisi kekuatan semua anggota tubuh dan keduanya masih tetap utuh setelah melemahnya semua anggota tubuh.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud pendengaran ialah kesadaran dan memahami semua yang didengar, kemudian tergerak untuk mengamalkannya. Makna yang dimaksud dengan penglihatan ialah mengambil bahan pertimbangan dari sesuatu yang dilihatnya.