Menjaga Anak dan keluarga dari bahaya ‘ain

Menjaga Anak dan keluarga dari bahaya ‘ain

Doa bila melihat pada diri, anak atau harta serta hal yang menakjubkan khawatir tertimpa ‘ain (kemudaratannya)

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

‘Ain adalah hak (benar adanya).

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ummu Salamah yang menceritakan:

Nabi Muhammad saw melihat di dalam rumah Ummu Salamah seorang pelayan wanita yang pada wajahnya terdapat roman muka yang berwarna pucat kekuning-kuningan, maka beliau bersabda, “carikan ruqyah untuknya karena sesungguhnya dia telah terkena penyakit ‘ain.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

‘Ain adalah hak. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ain lah yang dapat mendahuluinya. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah kalian.

Telah disebutkan sebuah riwayat melalui Siti Aisyah:

Bahwa dahulu ada orang yang mempunyai ‘ain diperintahkan berwudu, lalu air bekas wudunya itu dimandikan kepada orang yang terkena ‘ain-nya.

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan:

Rasulullah saw selalu berta’awwudz dari jin dan ‘ain manusia hingga turunlah surat Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Naas). Setelah kedua surat itu diturunkan, beliau mengambil keduanya dan meninggalkan yang lain.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari sebuah hadis melalui Ibnu Abbas:

Nabi Muhammad saw acapkali men-ta’widz Al Hasan dan Al Husain dengan doa berikut:

اُعِيْذُ كُمَابِكَلِمَاتِ اللّٰهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

U’iidzu kamaa bikalimaatillaahit taammaati min kulli syaithaanin wa haammatin wamin kulli ‘ainin laammatin.

“Aku Men-tawidz kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna agr dilindungi dari semua setan dan binatang yang berbahaya serta dari ‘ain yang mencela.

Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya ayah kalian berdua dahulu selalu men-ta’widz Ismail dan Ishaq dengan kalimat-kalimat tersebut.”

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Sa’d ibnu Hakim yang menceritakan:

Nabi Muhammad saw apabila merasa khawatir akan menimpakan musibah kepada sesuatu karena ‘ain, maka beliau berdoa:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلاَ تَضُرُّهُ

Allaahumma baarik fiihi walaa tadhurrahu.

“Ya Allah, berkahilah ia dan janganlah Engkau timpakan mudarat kepadanya.”

Diriwayatkan di dalam kitab ibnu Sinni melalui Anas radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

Barang siapa yang melihat sesuatu, lalu membuatnya merasa takjub, hendaklah ia mengucapkan kalimat berikut:

مَاشَاءَاللّٰهُ لاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللّٰهِ

Maasyaa Allaahu laa quwwata illa billaahi

“Ini adalah apa yang dikehendaki Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Niscaya hal tersebut tidak akanmembahayakannya.

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Sahl ibnu Hanif radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dalam dirinya atau harta bendanya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya, karena sesungguhnya ‘ain itu adalah hak.

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Amir ibnu Rabi’ah yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian melihat pada diri dan harta bendanya dan merasa takjub dengan hal-hal yang menakjubkannya, hendaklah ia berdoa memohon keberkahan.

Imam Abu Muhammad Al Qadhi Husain dari kalangan mazhab Syafii mengatakan di dalam kitab At Ta’liq fil madzhab bahwa seorang nabi memandang kepada kaumnya, lalu merasa takjub dengan jumlah mereka yang banyak, maka matilah sebanyak 70 ribu orang dalam waktu satu jam. Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya:

Engkau telah menimpakan ‘ain kepada mereka. Seandainya ketika engkau menimpakan ‘ain kepada mereka, lalu engkau membentengi mereka, niscaya mereka tidak akan binasa. Nabi itu bertanya, “dengan apakah aku membentengi mereka?’

Allah swt menurunkan wahyu kepadanya, “Ucapkanlah olehmu:

حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَىِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِى لاَيَمُوْتُ اَبَدًا, وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَبِلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِا اللّٰهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ

Hashshantukum bil hayyil qayyuumul ladzii laa yamuutu abadan. wadafa’tu ‘ankumus suu-a bilaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiimi.

“Aku bentengi kalian dengan Tuhan yang Maha Hidup lagi terus menerus mengatur makhluk-Nya, Dia tidak mati selama-lamanya.”

Dan aku tangkal keburukan yang akan menimpa kalian dengan bacaan, “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Al Qadhi Husain bila memandang kepada teman-temannya, lalu merasa takjub terhadap akhlaq dan kebaikan mereka, maka ia membentengi mereka dengan doa diatas.