Shalat Idul Adha dan Idul Fitri (Pengertian, Niat, Tata Cara, dan Hadis Yang Menerangkannya)

Salat Id adalah ibadah salat sunah yang dilakukan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah, namun sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Idul Fitri, adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda.

Shalat Id

Iduladha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang atau di masjid, seperti ketika merayakan Idulfitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Iduladha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idulfitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Pusat perayaan Iduladha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji. Iduladha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Iduladha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji.

Hadits mengenai shalat Id

Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi SAW. pada hari raya idul fitri dan idul adha keluar ke mushalla (padang untuk salat), maka pertama yang dia kerjakan adalah salat, kemudian setelah selesai dia berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shaf mereka, lalu dia memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila dia hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah dia putuskan,dia perintahkan setelah selesai dia pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan salat Id bersama Nabi Muhammad SAW. dia memulai salat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai dia berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah selesai dia turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya dia memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)

Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah SAW. memerintahkan kami keluar pada ‘idul fitri dan ‘idul adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari mushalla tempat salat Id, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Dia bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)

Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi SAW. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali dia memakan beberapa biji kurma, dan dia memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi Muhammad SAW. Mendirikan salat Id, kemudian dia memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan salat Jumat, kemudian dia bersabda : Barang siapa yang mau salat jumat, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW. bertakbir pada salat Id dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak salat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)

Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan salat Id pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat salat Id sampai mereka tiba di musala (tempat salat Id) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

Cara mengerjakan Shalat Id

Pada tanggal 1 syawal atau 10 dzulhijjah setelah kita melaksanakan shalat shubuh dan seseudah kita mandi sunah hari raya. Berangkat ke masjid atau lapangan dengan memperbanyak membaca takbir. Apabila tiba di masjid laksanakanlah shalat sunah tahiyyatul masjid.

Bacaan niat shalat idul fitri :

اُصَلِّ سُنَّةً لِعِيْدِالْفِطْرِرَكْعَتَيْنِ مَٵْمُوْمًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli sunnata li’iidil fithri rak’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa. Allaahu akbar. (Saya niat shalat idul fitri dua rakaat (makmum) karena Allah ta’ala. Allahu akbar)

اُصَلِّ سُنَّةً لِعِيْدِالاَ ضْحٰى رَكْعَتَيْنِ مَٵْمُوْمًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Ushalli sunnata li’iidil adhaa rak’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa. Allaahu akbar. (Saya niat shalat idul adha dua rakaat (makmum) karena Allah ta’ala. Allahu akbar)

Pada rakaat pertama sesudah niat (takbiratul ihram), membaca doa iftitah, lalu takbir 7 kali, disetiap takbir disunahkan membaca :

سُبْحَانَاللّٰهِ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ وَلاَاِلٰهَ اِلاَّاللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرْ

Subhanallaahi walhamdu lillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar.)

Setelah itu lalu membaca al fatihah dilanjutkan membaca surat yang lain (utamanya surat Qaf atau al a’laa). Pada rakaat kedua sesudah berdiri membaca takbir 5 kali, dan disetiap takbir disunahkan membaca tasbih diatas. Membaca al fatihah lalu surat yang lainnya (utamanya al ghasiyah).

Shalat ini dilakukan dengan dua rakaat, dan tata caranya sama saja dengan shalat yang lain. Setelah selesai shalat id dilanjutkan dengan khutbah. Dalam khutbah idul fitri hendaknya berisi tentang fitrah, dan pada hari raya idul adha berisi tentang ibadah haji dank urban.

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan sebelum shalat ‘Id :

  1. Pada hari raya disunahkan mandi dan berhias, memakai pakaian yang paling baik dan menggunakan wewangian.
  2. Disunahkan makan dulu sebelum pergi shalat pada hari raya idul fitri, tetapi pada hari raya idul adha disunahkan tidak makan dulu (makannya setelah shalat).
  3. Ketika berangkat shalat dan pulang shalat hendaknya mengambil jalan yang berlainan (berbeda).
  4. Takbiran

Perlu diketahui bahwa pada hari raya idul fitri dan idul adha semua orang, besar, kecil, tua, muda agar ikut meramaikannya, bahkan bagi wanita yang sedang haid pun dianjurkan keluar ke lapangan, walaupun mereka tidak ikut shalat.

Related posts

Leave a Comment