Doa ketika menghadapi sakit atau ketika sakaratul maut

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw berdoa seraya menyandarkan (kepalanya) kepadaku:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاَلْحِقْنِى بِالرَّفِيْقِ الْاَ عْلَى

Allaahummagh firlii warhamnii wa alhiqnii birrafiiqil a’la

“Ya Allah, ampunilah daku, rahmatilah daku, dan himpunlah daku dengan fafiqul a’la.”

Orang sakit harus memperbanyak membaca Al Qur’an dan zikir

Orang yang bersangkutan disunatkan pula memperbanyak membaca Al Qur’an dan zikir-zikir. Dimakruhkan baginya bersikap menyesal, berakhlak buruk, mencaci maki, bertengkar, dan berdebat tentang masalah selain yang menyangkut perkara agama.

Yang disunatkan ketika menghadapi sakaratul maut

Disunatkan bersyukur kepada Allah swt dengan hati dan lisannya serta memantapkan hati bahwa saat itu merupakan saat terakhir baginya di dunia ini, sehingga tergeraklah dirinya untuk berusaha keras agar mengakhirinya dengan kebaikan dan segera menunaikan hak-hak pemiliknya masing-masing, antara lain mengembalikan perkara yang zalim, titipan, pinjaman, dan meminta maaf kepada keluarganya, yaitu istri, kedua orang tua, anak-anak, para pelayan, tetangga, dan teman-temannya serta setiap orang yang mempunyai hubungan muamalah atau persahabatan dengannya atau berkaitan dalam sesuatu hal.

Dianjurkan berwasiat mengenai perkara anak-anak apabila mereka tidak mempunyai kakek yang layak dijadikan sebagai wali mereka. Hendaklah berwasiat mengenai hal-hal yang tidak mungkin dapat dikerjakan pada saat itu, seperti membayar sebagian utang-utang dan sebagainya.

Hendaknya berbaik sangka kepada Allah swt bahwa Dia pasti merahmatinya, dan memantapkan perasaan dalam hati bahwa dirinya adalah or yang paling hina di kalangan makhluk Allah swt. allah swt tidak perlu menyiksa serta tidak perlu pula kepada ketaatannya. Dia adalah hamba-Nya; tidaklah ia meminta maaf, kebajikan, dan ampunan serta harapan kecuali hanya kepada Allah swt.

Disunatkan membiasakan diri membaca ayat Al Qur’an yang mengandung makna harapan dengan suara lembut atau dibacakan oleh orang lain dan ia mendengarkannya. Dianjurkan pula meminta dibacakan hadis yang mengandung makna harapan, kisah orang-orang saleh, dan sepak terjang mereka ketika menghadapi kematian.

Hendaknya kebaikan yang dikerjakannya makin bertambah, memelihara salat, dan menjauhi najis serta hal-hal lain yang termasuk pekerjaan agama. semua itu ia lakukan dengan sabar seraya menanggung masyaqat-nya dan berlaku hati-hati agar tidak meremehkan hal tersebut. sesungguhnya termasuk hal yang paling buruk ialah bila seseorang di akhir hayatnya di dunia ini merupakan ladang akhirat berlaku sembrono (lalai) terhadap apa yang diwajibkan atas dirinya, atau hal yang disunatkan atas dirinya.

Dianjurkan agar ia tidak mendengar omongan orang yang mengejeknya karena ia melakukan sesuatu hal yang disebutkan di atas, karena sesungguhnya hal tersebut merupakan ujian baginya, dan orang yang melakukannya tiada lain adalah teman yang tidak mengerti musuh yang tersembunyi. Janganlah mendengarkan ejekannya, tetapi hendaklah berusaha sekuat tenaga untuk mengakhiri umurnya dengan keadaan yang paling sempurna.

Sunat berwasiat ketika akan meninggal dunia

Disunatkan berwasiat kepada keluarga dan teman agar bersabar terhadap dirinya yang sedang sakit dan menahan apa yang dilakukannya. Selain itu, hendaklah ia berwasiat untuk bersabar atas musibah yang menimpa mereka disebabkan ia sakit. Dalam wasiatnya itu hendaklah ia tekankan agar jangan menangisinya, dan kemukakan sebuah hadis Rasul yang menyatakan,”Mayat di azab karena tangisan keluarga terhadapnya.”

Hendaklah mengatakan agar jangan melakukan hal-hal yang menyebabkan ia tersiksa. Berwasiat agar berlaku lemah lembut kepada orang yang ditinggalkannya, yakni anaknya yang masih kecil-kecil, pelayan laki-laki dan perempuan, atau selain mereka dari anggota keluarganya.

Hendaklah berwasiat kepada keluarga agar tetap berbuat baik kepada teman-temannya, serta mengajarkan kepada mereka sebuah hadis sahih dari Rasulullah saw yang mengatakan, “Sesungguhnya termasuk menghormati orang tua ialah bila seorang lelaki bersilaturahmi kepada teman sejawat ayahnya.”

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah saw selalu menghormati teman-teman wanita Siti Khadijah r.a. setelah ia wafat.

Diaunatkan dengan sunat muakkad agar berwasiat kepada mereka untuk menjauhi apa yang biasa dilakukan oleh tradisi berupa perbuatan bid’ah dalam masalah jenazah, sebaiknya hal tersebut dikukuhkan dengan perjanjian. Berwasiatlah kepada mereka (keluarga) agar berjanji tetap mendoakan dan jangan melupakannya dalam doa sepanjang masa.

Orang yang sedang sakit parah disunatkan mengucapkan kepada sanak keluarga dan teman-temannya dari suatu waktu ke waktu yang lain, “Apabila kalian melihat kealpaan pada diriku dalam suatu hal, ingatkan diriku dan tegurlah dengan tutur kata yang lemah lembut. Tunaikan nasihat kalian terhadap diriku, karena sesungguhnya aku terancam oleh kelalaian, kemalasan, dan kealpaan. Apabila aku lemah, berilah aku semangat, dan bantulah aku dalam persiapan menghadapi perjalanan yang amat panjang ini.”

Membaca Laa ilaaha illallaah ketika sakaratul maut

Apabila seseorang mengahadapi naza’ (wafat), hendaklah memperbanyak ucapan laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah) agar kalimat ini merupakan akhir dari kalimatnya.

Diriwayatkan di dalam kitab hadis, yaitu hadis Sunan Abu Daud dan yang lainnya, melalui Mu’adz ibnu Jabal r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah sw pernah bersabda, “Barang siapa akhir dari kalamnya adalah, “Tiada Tuhan selain Allah,” niscaya fia masuk surga.”

Imam Hakim, yaitu Abu Abdullah, di dalam kitab Al Mustadrak mengatakan bahwa hadis ini sanadnya sahih.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim, kitab Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, dan Sunan Turmudzi, serta yang lainnya melalui Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ajarkanlah kepada orang-orang yang akan mati kalimat laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah).”

Imam Turmudzi mengatakan, hadis ini berpredikat hasan sahih.

Para ulama mengatakan, jika orang yang bersangkutan tidak mengucapkan Laa ilaaha illallaah hal ini ditalkinkan oleh orang yang menghadirinya. Hendaklah seseorang mengajarkan kalimat ini kepadanya dengan lemah lembut karena dikhawatirkan akan mengganggunya yang pada akhirnya ia menolak. Apabila ia mengucapkannya sekali, maka talkin tidak usah diulangi, kecuali jika ia mengucapkan kata-kata yang lain.

Orang yang mentalkin itu disunahkan tidak mencurigakan, agar si mayat tidak terganggu dan tidak menuduhnya. Shighat talkin ialah laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah (tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). sedangkan jumhur ulama menyingkatnya sampai pada kalimat laa ilaaha illallaah.

Related posts

Leave a Comment