Bacaan shalawat Nabi sesudah tasyahud yang shahih

Membaca salawat untuk Nabi Muhammad saw sesudah tasyahhud akhir adalah wajib, menurut Imam Syafii. Seandainya seseorang meninggalkannya, salatnya tidak sah. Tetapi membaca salawat buat keluarga Nabi saw dalam tasyahhud hukumnya tidak wajib, tetapi sunat. Tetapi ada juga yang berpendapat membaca salawat kepada keluarga Nabi hukumnya wajib.

Yang paling utama dalam membaca salawat ialah mengucapkannya sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْ لِكَ النَّبِىِّ الْاُمِّىِّ, وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ, كَمَاصَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الْاُ مِّىِّ, وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ, كَمَابَارَكْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ, وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ فِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَّجِيْدٌ

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin ‘abdika warasuulikan nabiyyil ummiyyi, wa’alaa aali Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa shallaita ‘alaa ibraahiima wa’alaa aali ibraahiima wabaarik ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi, wa’alaa aali Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kama baarakta ‘alaa ibraahiima, wa’alaa aali ibraahiima fil’aalamiina innaka hamiidun majiidun.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Nabi Muhammad, hamba-Mu, utusan-Mu, yaitu Nabi yang ummi; juga kepada keluarga Nabi Muhammad, istri-istri, dan keturunannya. Sebagaimana Engkau limpahkan salawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah Nabi Muhammad, Nabi yang ummi; juga keluarganya, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau berkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya di kalangan umat manusia. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.”

Hal yang diwajibkan dalam membaca salawat adalah memakai lafadz:

اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى النَّبِىِّ

Allaahumma shalli ‘alan nabiyyi. (Ya Allah, limpahkanlah salawat buat Nabi.)

Tasyahud

Bila suka, boleh mengucapkan seperti berikut:

صَلِّى اللّٰهُ عَلٰى مُحَمَّدٍ

Shallallaahu ‘alaa Muhammadin .(Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Muhammad.)

Atau boleh pula mengatakan

صَلِّى اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهِ

Shallallaahu ‘alaa rasuulihi (Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Rasul-Nya.)

Atau

صَلِّى اللّٰهُ عَلَى النَّبِىِّ

Shallalaahu ‘alan nabiyyi (Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Nabi)

Tetapi ada juga yang berpendapat tidak boleh mengucapkan yang lain selain dari ucapan:

اَللّٰهُمَّ صَلِّى مُحَمَّدٍ

Allaahumma shalli Muhammadin (Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Nabi Muhammad)

Ada yang memperbolehkan sebagai berikut:

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى اَحْمَدَ

Wa shallallaahu ‘alaa ahmad. (Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Ahmad)

Ada pula yang mengatakan boleh mengucapkan dengan lafadz berikut:

صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ

Shallallaahu ‘alaihi. (Semoga Allah melimpahkan salawat kepadanya (Nabi Muhammad saw)

Dalam tasyahhud pertama tidak diwajibkan membaca salawat untuk Nabi saw, tanpa ada yang memperselisihkannya. pendapat yang paling sahih adalah disunatkan. Membaca salawat buat keluarga tidak disunatkan, menurut pendapat yang sahih; tetapi menurut pendapat lain disunatkan.